Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba Old Stuff Good Stuff

Makanan dan Tradisi Perjamuan dalam Epos La Galigo

Sobat Lontara, pada tanggal 27 Maret 2026 silam, untuk pertama kalinya diadakan sebuah acara bertajuk Indonesian Food Outside Indonesia Symposium di kota Leiden. Acara yang terselenggarakan oleh kolaborasi antara Stichting Eating Habits bersama Indonesian Diaspora Network Global dan KITLV ini bertujuan untuk menjadi wadah bagi diaspora Indonesia di luar negeri saling bertukar gagasan serta pengalaman mempromosikan kuliner Indonesia di kancah mancanegara. Panelis-panelis yang diundang sudah pasti berkaliber pada bidangnya, mereka merupakan orang-orang Indonesia/keturunan Indonesia yang memiliki bisnis restoran, penulis buku-buku resep masakan, hingga influencer kuliner dari berbagai pelosok benua Eropa dan Amerika.

Nah, ngomong-omong soal makanan, tahu kah kamu bahwa epos La Galigo yang didapuk sebagai karya sastra terpanjang di dunia itu juga merekam tradisi kuliner dan bahkan adab dalam menghidangkan makanan? Simak ceritanya di artikel ini yuk!

Bananas, goiaba e outras frutas, Albert Eckhout (17th century)

Epos La Galigo menyiratkan bahwa tradisi menjamu tamu dengan makanan telah eksis bahkan sebelum Dunia Tengah diisi oleh manusia. Hal ini nampak pada episode “Mula Taué” (Permulaan Manusia) yang bercerita tentang persiapan para dewata untuk menurunkan Batara Guru La Togeq Langiq sebagai manusia pertama di muka bumi. Demi membahas detail prosedur peristiwa yang maha-penting ini, Datu Patotoé selaku penguasa tertinggi Boting Langiq (Dunia Atas) sekaligus ayah Batara Guru mengundang saudarinya, Sinaung Toja, yang bertakhta sebagai penguasa di Toddang Toja (Dunia Bawah) bersama sang suami, Opu Samudda, untuk naik ke atas langit menghadiri rapat besar. Dalam master plan Datu Patotoé, nantinya Batara Guru akan ditemani pula oleh Wé Nyiliq Timoq, putri sulung pasangan Sinaung Toja dan Opu Samudda, sebagai pasangan suami-istri pertama di Dunia Tengah.

Nah, dalam perjalanan rombongan Sinaung Toja yang tak terbilang jumlahnya dari dasar samudera menuju ke Boting Langiq melalui sebuah jembatan pelangi, mereka melewati negeri-negeri langit yang diperintah oleh anak-anak Datu Patotoé lainnya. Salah satunya adalah negeri Léténg Riuq yang dipimpin oleh Balassa Riuq, Sang Penyabung Petir. Ketika melihat rombongan bibinya dari Toddang Toja itu melewati istananya, maka selaku keponakan yang baik, Balassa Riuq bergegas menyambut dan mengundang Sinaung Toja untuk makan siang.

Sompa makkeda Balassa Riuq, “Léppang ko mai, Puang Ponratu, majjelleq tikkaq ri jajaremmu, tasitinroq pa ménréq manaiq ri Boting Langiq, apaq nadapiq maneng kkeng obiq.” Mabbali ada Sinaung Toja, “Kerruq jiwamu, Anaq Ponratu, lé tellépang ngaq, Anaq, majjelleq ri langkanamu, apaq mabéla mua pa ronnang ri Rualletté, lé nadapiq ni tanra tikkaqna ncajiangngé kko.”

(Menyembah sambil berkata Balassa Riuq,

“Mampirlah kemari, Puang-ku, makan siang di balairungmu, nanti kita beriring jalan naik ke Boting Langiq, sebab kami pun mendapat panggilan (dari Datu Patotoé).”

Menjawab Sinaung Toja,

“Kur jiwamu, Paduka Anakanda. Aku tidak singgah makan siang di istanamu karena masih jauh nian Rualetté (istana Datu Patotoé), telah tiba pula hari yang ditetapkan oleh orang tuanmu.”)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 1, Leiden University Library

Undangan makan siang dari Balassa Riuq tersebut adalah sebuah gambaran adat-istiadat yang hingga hari ini masih berlaku di tengah masyarakat Bugis. Menjamu tamu adalah suatu keharusan, tindakan ini tidak hanya menunjukkan keramah-tamahan namun juga tingginya adab seseorang selaku tuan rumah kepada tetamu yang memasuki rumahnya. Sikap Balassa Riuq ini adalah manifestasi dari nilai sipakalebbiq (saling memuliakan) yang juga nampak dari pepatah Bugis “Macca duppa to polé, panguju to lao” (pandai dalam menerima tamu serta membekali ia yang bepergian).

Dalam perjalanan hingga ke langit lapis kesembilan tempat istana Rualetté berada, Sinaung Toja dan suaminya terus mendapatkan undangan makan siang dari keponakan-keponakan mereka, namun seluruhnya ditolak. Nantinya, setelah rombongan Toddang Toja tiba di Rualetté, barulah ia berkenan untuk makan bersama sang kakak, Datu Patotoé. Tindakan Sinaung Toja dalam menolak tawaran-tawaran jamuan dari keponakan-keponakannya itu sejatinya adalah bentuk penghormatan kepada kakaknya sebagai pihak yang mengundang. Ia tidak ingin mengecewakan Datu Patotoé, apabila jika ternyata kedatangannya jadi terlambat karena menerima seluruh ajakan makan siang dari Balassa Riuq bersaudara. Nampak bahwa undangan untuk makan bukan sekadar ajakan untuk mengisi perut semata, namun punya arti yang begitu mendalam terkait tata krama!

Makanan Dewata v. Makanan Manusia

Salah satu aspek menarik terkait kuliner di dalam cerita-cerita La Galigo adalah dibedakannya makanan ke dalam dua kategori, yaitu makanan yang khusus disajikan kepada dewata serta makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Pembedaan dua jenis makanan ini berkaitan erat dengan kepercayaan leluhur di zaman dahulu bahwa kehidupan kita sehari-hari senantiasa tak terpisahkan dari ritual-ritual yang menghubungkan manusia dengan roh-roh nenek moyang. Di La Galigo, makanan yang dikonsumsi oleh para dewata di Boting Langiq kerap dijuluki pula dengan istilah ‘makanan orang Senrijawa yang tidak dipanggang di atas api.’ Senrijawa dalam konteks ini adalah istilah pars pro toto yang merujuk kepada seluruh kerajaan langit tempat para dewata bermukim. Nah, berbeda dengan makanan manusia yang harus diolah terlebih dahulu seperti dipanggang, maka makanan para dewata ini sudah tersaji dengan sempurna tanpa perlu diproses. Teknik memanggang makanan (ritunuang) menariknya adalah cara memasak paling awal yang manusia praktekkan di dalam epos ini.

Di Dunia Tengah, manusia pun juga memberikan sajian kepada para dewata sebagai bagian dari ritual. Umumnya, makanan dewata ini adalah makanan yang dapat dikonsumsi pula oleh manusia, namun pada saat ritual tengah berlangsung, makanan-makanan tersebut terlarang bagi mereka. Sebagai makanan yang dipersembahkan kepada dewata, tentu saja kualitas yang disajikan adalah yang terbaik. Daging kerbau menjadi pilihan utama yang kerap dipersembahkan dalam upacara-upacara adat maupun ritual-ritual untuk menyenangkan hati dewata. Disebutkan bahwa daging tédong camara (kerbau hitam dengan warna putih pada ubun-ubunnya) yang dipanggang adalah sajian terbaik untuk dipersembahkan kepada mereka. Tak heran jika kemudian ada banyak sekali adegan di epos La Galigo yang menampilkan bagaimana ratusan ekor kerbau jenis ini dikurbankan sebagai tanda melunasi nazar tertentu. Contohnya, saat Wé Nyiliq Timoq menderita di tengah persalinan melahirkan putra pertamanya, maka diadakan lah ritual doa memohon kemudahan kepada Datu Patotoé sekaligus pengurbanan kerbau-kerbau tersebut.

“Jaji o mai céro datué, natuo ina, natuo anaq, lé nasiwakkang lempuq datué ri jajianna. Lé nanre mua lé déwataé tédong camara tebbanna keti mattanruq kati ri alakkéreng lé potto buneq. Tekkuassengngen esso madécéng tikkaq mawajiq, kupaléssoq i samaja tédong jawi tinio sungeq datunna datu anriku.”

(“Lahirlah engkau kemari darah bangsawan, biar hidup ibu, hidup anak, agar sepangkuan jualah datu dengan anaknya. Kiranya dewata menerima kerbau cemara bertanduk emas yang seketi banyaknya, becocokkan hidung gelang emas. Tak kupeduli siang ataupun matahari terbit, kusembahkan nazar kerbau pembela jiwa kehidupan Sri Paduka ratu adinda.”)

Lantas, apa yang dimakan oleh manusia? Nah, masih di episode “Mula Tau”, dikisahkan bahwa ketika Batara Guru dan istrinya, Wé Nyiliq Timoq, masih awam selaku penghuni baru di Dunia Tengah, mereka memperhatikan alam di sekeliling mereka untuk menemukan makanan. Di salah satu kesempatan, Wé Nyiliq Timoq melihat beberapa ekor burung tengah menikmati suatu buah dengan lahapnya.

Ngkiling makkeda Wé Nyiliq Timoq, “Aré ga sia mennang ri awa lé maridié? Malampéq-lampéq mua lamana, napoinanré lé manuq-manuq tesserupaé.” Mabbali ada Batara Guru, “Ia na ro, Anri, riaseng lé utti tasaq.”

(Berpaling sembari berkata Wé Nyiliq Timoq:

“Apa gerangan di bawah sana, yang berwarna kuning? Agak panjang daunnya, menjadi makanan aneka macam burung.”

Batara Guru menjawab:

“Itulah, Adinda, yang dikatakan pisang masak.”)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 1, Leiden University Library

Ketika mengetahui bahwa burung-burung tersebut tidak mati keracunan setelah mengonsumsi pisang, maka Wé Nyiliq Timoq pun meminta untuk diambilkan buah itu sebagai makanan pertamanya di Dunia Tengah. Kejadian serupa terjadi beberapa kali: setelah melakukan observasi terhadap apa saja yang dimakan oleh para binatang di hutan, Wé Nyiliq Timor dan suaminya berhasil mengumpulkan beragam jenis makanan alami seperti biji-bijian, buah-buahan dan juga sayur-sayuran. Demikian lah epos La Galigo merekam bagaimana leluhur kita pertama kali menikmati makanan, eating by learning. Di adegan lain dari episode ini, Datu Patotoé juga menganugerahi pasangan suami istri ini dengan pangan seperti wetteng (jewawut) dan bataq (jagung) yang diturunkan dari langit. Apabila jewawut adalah tanaman pangan asli yang tumbuh di Kepulauan Nusantara, maka menarik untuk dicatat bagaimana epos ini juga menyertakan jagung yang sejatinya berasal dari Benua Amerika dan dikenal di tanah air seiring dengan kedatangan bangsa Eropa di abad ke-16 sebagai salah satu sumber pangan Batara Guru! Hal ini mencerminkan lapisan penulisan La Galigo yang lebih kemudian, ketika jagung telah dikenal luas di Nusantara. Nantinya setelah kelahiran salah seorang putri Batara Guru yang bernama Sangiang Serri Wé Oddang Riuq, barulah umat manusia di Dunia Tengah juga mengenal padi sebagai makanan utama mereka.

Eating Manners ala La Galigo

Etiket atau tata cara makan yang baik juga telah dikenal sejak zaman La Galigo. Ada banyak adegan-adegan yang menggambarkan perjamuan di epos ini. Bagaimana urutan-urutan untuk menghidangkan makanan, cara menyantap sajian, hingga membersihkan tangan dan mulut, semuanya digambarkan dengan detail. Berikut ini cuplikannya:

lé tessitengnga siworengngé narisolongi, lé temmairung liseq rakkié naritodongi, nawekka pitu timpuq nasoroq Manurungngé mallaibini, Wé Datu Sengngeng massapo siseng, ripaccingiang ronnang parimeng tettincarinna, makkaci sumpang mpali timmomoq, ritanréréang méraq naota, ripaddampeng ni siworengngé, ripasoroq ni tolong rakkileq ajjellerenna, to ritaroé tuneq ri lino

(Belum habis separuh gelas minuman itu diisi lagi,

belum berkurang isi baki ditambah lagi.

Hanya tujuh kali menyuap Manurungngé suami istri sudah berhenti,

begitu pun Wé Datu Sengngeng bersepupu sekali.

Jari tangan mereka dibersihkan kembali,

lalu berkumur-kumur, disuguhi sirih lalu menyirih.

Gelas-gelas telah dikembalikan,

dibereskan pula bakul kemilau tempat makanan

orang yang dijadikan tunas di bumi)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 3, Leiden University Library

Dari potongan bait di atas, nampak bahwa dalam menghidangkan santapan penting sekali bagi tuan rumah untuk memastikan gelas dan piring tamu yang ia jamu tidaklah kosong. Menambahkan minuman dan makanan sebelum habis adalah kewajiban. Tradisi ini masih berlaku di kalangan masyarakat Bugis abad ke-21 lho, dimana pada umumnya tamu diharapkan oleh tuan rumah untuk terus menambah makananannya! Hal ini menandakan kemurahan hati si penjamu sekaligus gestur sipakalebbiq untuk memuliakan tamunya.

Uniknya, La Galigo juga menyebutkan bahwa cara makan yang baik adalah dengan membagi porsinya menjadi tujuh suapan. Sepintas, kelihatannya sedikit banget ya makannya. Namun, di balik itu, ternyata ada pesan yang lebih mendalam. Tujuh suapan menyimbolkan kontrol seseorang untuk tidak makan secara berlebihan. Dengan jumlah suapan yang terkendali, mengunyah pun jadi lebih baik. Tidak hanya hidangan dapat dinikmati dengan lebih tenang, mengunyah lebih lama memberi waktu bagi otak untuk menerima sinyal kenyang, serta mengurangi risiko perut kembung, mual, dan asam lambung naik. Tubuh juga jadi lebih mudah menyerap nutrisi dari makanan yang sudah halus. Secara filosofis, angka tujuh dalam kebudayaan Bugis juga dianggap natujuangngi dalléq yang berarti mencapai rezeki. Dengan demikian, tujuh suapan adalah perlambang dari pemenuhan kebaikan pada diri seseorang dengan takaran yang cukup.

Setelah selesai makan, maka sang tamu akan disajikan mangkuk kecil berisi air untuk membersihkan tangannya. Ya, pada masa itu, belum dikenal alat makan seperti sendok dan garpu sehingga untuk menyuapkan makanan ke mulut harus menggunakan tangan. Setelah membersihkan jari-jemari, maka sang tamu akan berkumur-kumur terlebih dahulu, menghilangkan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi. Sang tamu lalu disuguhkan daun sirih yang kemudian dikunyah untuk menghilangkan bau mulut serta mencegah gigi berlubang. Di zaman ketika tidak ada sikat dan pasta gigi, menyirih adalah tradisi adat yang, selain fungsi sosialnya, ternyata juga punya fungsi menjaga kesehatan mulut. Betapa mengagumkannya tradisi perjamuan dalam epos ini, detail higienitas juga diperhatikan!

Jejak Kuliner Diaspora Sulawesi Selatan

Gambar perahu Pinisi asal Sulawesi Selatan pada uang Dollar Singapura

Kembali ke cerita soal diaspora, tahu kah kamu bahwa seiring dengan bermigrasinya masyarakat Bugis-Makassar-Mandar ke Semenanjung Melayu, berlayar pula sebagian resep kuliner dari tanah Sulawesi bersama mereka? Fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari dinamika sosial: makanan adalah identitas yang menjadi pengikat komunitas dimanapun mereka berada. Maka, jangan heran jika kawan-kawan keturunan Bugis di Malaysia ataupun Singapura juga menganggap makanan-makanan khas Sulawesi Selatan sebagai warisan kebudayaan mereka.

Di negeri Johor, Malaysia, hingga hari ini kita masih dapat menemukan makanan Bugis seperti buras. Buras atau burasak yang berbahan dasar beras dan santan itu menjadi makanan khas masyarakat Johor keturunan Bugis tiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Menurut keterangan dari situs Gerbang Informasi Seni dan Budaya Malaysia, burasak telah menjadi makanan pokok orang Bugis yang menetap di Semenanjung Melayu sejak abad ke-16, diperkenalkan dari Kepulauan Sulawesi di Indonesia. Hidangan ini adalah sajian yang disukai para pedagang Bugis selama pelayaran karena dapat disimpan untuk waktu yang lama. Secara tradisional, di Johor burasak disajikan bersama hidangan seperti asam pedas ikan parang serta ayam masak likku.

Selain itu, beragam makanan ringan seperti kue-kue dari tradisi Bugis juga tersebar luas di Malaysia dan Singapura. Di negeri Selangor, salah satu warisan kuliner Sulawesi Selatan yang masih dapat ditemukan hari ini ialah Kuih Bugis Mandi. Kue ini biasanya disajikan pada perayaan-perayaan seperti kenduri, melambangkan semangat kebersamaan.

Di Singapura, resep-resep makanan seperti Toppa’ Lada dan Coto Makassar juga menjadi warisan kuliner setempat. Meskipun tidak seterkenal makanan Jawa ataupun Minang, namun di keluarga-keluarga Melayu keturunan Bugis, resep-resep tersebut dijaga dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Makanan sesungguhnya bukan sekadar soal rasa, melainkan jejak ingatan yang ikut berlayar bersama manusia. Ia membawa serta adat, nilai, dan cara memuliakan sesama: sebuah bahasa kultural yang melintasi batas geografis tanpa kehilangan maknanya. Apa yang hari ini dibicarakan dalam forum diaspora di Leiden pada akhirnya merefleksikan sesuatu yang telah lama hidup dalam La Galigo: bahwa melalui makanan, hubungan sosial dirajut, identitas dipertahankan, dan dunia—baik Dunia Atas, Dunia Tengah, maupun Dunia Bawah—dihubungkan dalam satu jaringan makna yang berkesinambungan.

Referensi:

Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa, La Galigo Menurut Naskah NBG 188 jilid 1 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017).

Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa, La Galigo Menurut Naskah NBG 188 jilid 3 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017).

Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

“Tebang Pohon, Banjir Melanda” Sebuah Ramalan dari La Galigo

Sobat Lontara, di penghujung 2025 dan awal 2026 ini, bangsa Indonesia tengah dilanda duka nan mendalam. Saudara-saudara kita yang berada di Aceh dan Sumatera Utara ditimpa musibah banjir bandang yang tidak hanya meluluhlantakkan pemukiman namun juga merenggut banyak korban jiwa. Di daerah-daerah lain seperti Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan serta Papua Pegunungan, bencana air bah dan longsor juga melanda. Tentunya, musibah-musibah ini tidak terjadi begitu saja. Selain kenyataan bahwa perubahan iklim menyebabkan anomali pada fenomena cuaca secara global, kerusakan hutan juga menjadi salah satu faktor penting yang memicu terjadinya bencana-bencana tersebut.

Nah, ternyata sudah sejak zaman dahulu kala, leluhur kita telah berpesan kepada manusia untuk senantiasa menjaga pohon, makhluk Tuhan yang diberi peran istimewa untuk menyimpan air sekaligus menjaga struktur tanah. Simak bagaimana La Galigo menarasikan sebab-akibat apabila pohon ditebang untuk kepentingan manusia semata berikut ini.

Tiga Semesta dalam epos La Galigo yang dihubungkan oleh pohon kosmik Wélenréng

Dalam epos La Galigo, terdapat sebuah episode berjudul Ritumpanna Wélenréngngé yang berarti ‘Penebangan Pohon Wélenréng. Episode tersebut boleh dikatakan sebagai salah satu babak yang penting. Di dalamnya diceritakan bagaimana Sawerigading, protagonis dalam cerita-cerita La Galigo, cintanya bertepuk sebelah tangan sehingga memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya di Luwu dan berlayar ke negeri Cina demi menemukan pujaan hati.

Sebelum berlayar ke negeri tersebut, Sawerigading harus terlebih dahulu membangun sebuah perahu yang layak digunakan melayari samudera nan luas. Berdasarkan petunjuk dari adik perempuan kembarnya, Wé Tenri Abéng yang juga adalah seorang bissu sakti, Sawerigading lalu pergi ke Mangkuttu (dalam tradisi lisan berlokasi di tepi Sungai Cerekang). Di daerah itulah, Wélenréngngé —sebatang pohon raksasa yang menjulang tinggi hingga ke Botting Langiq— berdiri kokoh. Lebarnya konon mencapai tiga ratus depa dan panjangnya sekitar tujuh ribu depa, atau sama dengan 11,9 kilometer. Jika dibandingkan dengan Puncak Everest yang hanya 8,8 kilometer, jelas Pohon Wélenréng bagaikan pilar kosmik yang menembus lapisan atmosfer bumi!

“Jika hanya perahu menghalang dikau berlayar ke Cina,

kutunjukkan padamu kakanda Lawé (julukan Sawerigading),

Pohon Wélenréng di Mangkuttu, tumbuh tegak pada gunung kemenyan

Di sana berdiam semua ular sawah, ular lassa, ular méréli, lipan besar, bersarang pada naungan Wélenréng.

Di situ pula berdiam setangkup langit, sepetala bumi, burung-burung beraneka ragam, datang bersarang pada dahan Wélenréng.” – Wé Tenri Abéng

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 373)

Disebabkan oleh ukurannya yang besar, Wélenréng menjadi habitat dari tak terhitung jumlahnya spesies makhluk hidup. Mulai dari hewan-hewan yang melata dan hidup pada akar-akarnya, beragam jenis rusa, babi, kera, hingga ribuan burung yang bersarang pada lebih dari lima ratus dahan besar yang masing-masing memiliki tujuh puluh cabang. Tidak hanya itu, pada Wélenréng bersarang pula makhluk-makhluk tak kasad mata dari jenis padengngeng, pérésola, dan toaleqboreng pulakali yang dikatakan telah beranak-pinak pada pohon tersebut. Tak ayal, Wélenréng menjadi pohon hayat tempat biota darat, udara dan gaib bergantung, sebuah infrastruktur hidup yang menjaga kelestarian lingkungan.

Sebelum pohon tersebut hendak ditebang, terlebih dahulu Batara Lattuq, ayah Sawerigading memerintahkan untuk diadakan sebuah ritual. Ratusan kerbau, ayam merah berparuh dan berkaki kuning, serta ayam remaja berparuh dan berkaki hitam dikucurkan darahnya untuk membasahi Pohon Wélenréng sebagai tanda permohonan izin. Ketika ritual yang dipimpin oleh 70 orang Puang Matowa atau kepala dari para bissu tersebut dilaksanakan, seluruh makhluk yang menjadikan Pohon Wélenréng sebagai pusat kehidupan mereka serentak bereaksi. Mereka keberatan apabila pohon tersebut harus ditebang.

“Terkejut semua penghuni Wélenréng,

Dimabuklah mereka bau manusia.

Tiada senang lagi perasaan anak dewata

yang berumah di puncak Wélenréng”

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 411)

Ternyata, proses penebangan pohon tersebut mengundang perlawanan dari alam. Langit tiba-tiba bergejolak, disertai dengan saling sambar-menyambarnya kilat dan guntur serta angin ribut, menimbulkan ketakutan di hati manusia. Melihat alamat tersebut, lantas Batara Lattuq segera bergabung dalam ritual dan berkata kepada Pohon Wélenréng:

“Kasihani daku La Puang,

Kau izinkan daku menebang Wélenréng

Kuakhiri ia di tempatnya tegak, arakara pohon béttao béttaweng

Kujadikan ia perahu tumpangan hambamu pergi berlayar

menemui jodoh segaharanya.”

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 415)

Permohonan Batara Lattuq ini lantas ditanggapi oleh para penghuni Pohon Wélenréng. Mereka mengutarakan kesedihan mereka dalam ratapan yang mendalam. La Galigo mengisahkan bagaimana hewan-hewan ini, salah satunya seperti burung punai, menjeritkan suara hati mereka yang terancam kehilangan rumah dalam ribuan kicau, saat kapak emas Sawerigading mulai diayunkan.

Menangis mereka (burung punai Apung) berkata, “Tidak terpikir olehku hai Arakara pohon béttao béttaweng,

Kau tinggalkan sungguh teluk ini,

Gunung kemenyan tempatmu tegak di Mangkuttu

Kasihan Wélenréng, ketika daku bersarang di dahanmu, tiada tertiup angin Barat, tiada terhembus bayu Timur, tiada tertimpa sinar matahari terbit

Biar datang puting beliung, tiada sampai pada sarangku, sentosa kulahirkan anakku, tiada mati percuma anakku.”

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 433)

Seluruh manusia yang hadir dalam penebangan pohon itu konon terkejut menyaksikan gemuruh ratap tangis beraneka ragam satwa yang berumah di Wélenréng. Mereka gemetaran, berdiri bulu romanya ketika suara-suara binatang-binatang itu terus berlangsung siang dan malam. Namun demikian, itu semua tidak menyurutkan tekad Sawerigading untuk menebang sang pohon. Dengan bantuan sepupunya yang bernama La Pangoriseng, menggunakan kapak emas yang diturunkan dari langit, Wélenréng dengan mudah ditebang bak batang pisang. Batangnya jatuh membelah dua gunung, lalu rebah ditelan bumi. Bersamaan dengan itu, jutaan makhluk yang bersarang pada Wélenréng kalang kabut, berhamburan ke sana-sini menyelamatkan diri. Tidak ada lagi pohon raksasa tempat mereka bergantung. Yang mereka bawa hanyalah kesedihan dan kenangan akan Wélenréng Yang Agung.

Episode tersebut lantas dilanjutkan dengan kisah bagaimana kapal Sawerigading, yang kemudian juga dinamai Wélenréng, dibuat dengan bantuan dari para dewa yang menghuni dasar bumi. Bersama Wélenréng dalam wujud barunya itulah Sawerigading lantas memulai petualangannya ke negeri Cina.

***

Dalam versi tulisnya, riwayat Pohon Wélenréng di epos La Galigo memang berakhir seperti demikian. Namun, La Galigo adalah epos yang memiliki keberagaman bentuk. Versi-versi lisannya yang masih hidup di tengah masyarakat di Pulau Sulawesi memberikan perspektif yang lebih kaya lagi akan narasi penebangan Wélenréng. Salah satunya adalah cerita dari komunitas Suku Bajo/Sama di Kepulauan Selayar yang penulis dengar langsung pada tahun 2012. Di sebuah pulau kecil bernama Rajuni, terdapat sebuah cerita tentang asal-muasal Suku Bajo yang ternyata berkaitan erat dengan episode Ritumpanna Wélenréngngé.

Menurut versi lisan ini, seiring dengan rebahnya Pohon Wélenréng, jutaan sarang burung yang di dalamnya menyimpan tak terhitung jumlah butir telur unggas turut pula berjatuhan. Butiran-butiran telur tersebut kemudian pecah dan cairan albumen di dalamnya bersatu-padu tumpah-ruah membentuk banjir dahsyat yang menggenangi kawasan negeri Lubo (istilah orang Bajo untuk Tana Luwu).

Dalam sekejap mata, penduduk negeri Lubo diterjang oleh banjir albumen ini, sehingga mengakibatkan banyak di antara mereka yang tinggal di daratan terseret oleh arus hingga ke Teluk Boné. Dari situ, mereka kemudian berusaha untuk berenang atau berpegangan pada potongan-potongan kayu, mengapung-apung hingga kemudian terdampar di kawasan Kepulauan Selayar hingga Wakatobi. Mereka lah yang kemudian dipercaya sebagai cikal-bakal leluhur masyarakat Bajo hari ini. Keinginan Sawerigading untuk membuat perahu demi pelayarannya menuju ke negeri Cina ironisnya justru menyebabkan sekelompok masyarakat dari negeri asalnya, Lubo, menjadi pengembara bahari.

***

Apabila kita mencermati kedua versi La Galigo di atas, maka terdapat benang merah yang dapat ditarik. Pertama, melalui versi tulis La Galigo episode Ritumpanna Wélenréngngé, leluhur kita di Sulawesi Selatan telah berpesan bahwa pohon sejatinya adalah sumber kehidupan. Penggambaran beragam jenis spesies yang menghuni Wélenréng menunjukkan peran sentral pohon dalam sebuah ekosistem. Rusaknya satu batang pohon saja dapat menimbulkan efek masif bagi lingkungan hidup di sekitarnya, apa tah lagi jika menggunduli hutan. Versi tulis La Galigo memang tidak secara eksplisit dan lantang melawan eksploitasi alam yang dilakukan oleh Sawerigading untuk melaksanakan hajatnya, namun lewat deskripsi yang panjang serta mendetail berisi ratapan hewan-hewan serta makhluk gaib penghuni Wélenréng kita mendapatkan perspektif penutur cerita bahwa sejatinya segala unsur dalam lingkungan hidup saling terhubung satu sama lain. Kerusakan yang ditimbulkan dari penebangan Wélenrengé dapat dikategorikan sebagai suatu kiamat ekologis, sebab dampaknya menyebabkan tak terhitung spesies makhluk hidup kehilangan habitat hidupnya. Pada versi lisan Bajo, bencana ini bahkan menyebabkan banjir bandang yang menggusur masyarakat penghuni Lubo dari tempat hidup aslinya.

Pada akhirnya, cerita-cerita seperti ini tentunya bukanlah dongeng semata, melainkan suatu rekaman akan sebuah peristiwa atau pola di masa lalu yang membekas di dalam narasi lisan. Lewat cerita-cerita ini, para leluhur di Sulawesi Selatan memberikan pesan bahwa pohon memiliki peran vital sebagai jangkar yang mengikat erat kesatuan ekosistem, sehingga kelestariannya krusial dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, satu pesan nyata dari cerita ini adalah ramalan akan terjadinya banjir ataupun katastrofi besar lainnya apabila pohon-pohon dieksploitasi demi kepentingan manusia tanpa mempertimbangkan alam sekitarnya.

Hari ini, Sulawesi Selatan terus dibayang-bayangi oleh hantu bernama deforestasi. Pembukaan lahan dengan alasan pembangunan, pertambangan ataupun perkebunan memaksa pohon-pohon lokal untuk ditebangi dan tanah untuk dikeruk. Tiap tahun, bencana banjir juga kian sering terjadi, tidak hanya di perkotaan namun juga di pedesaan. Alam yang berubah sebenarnya telah mengirimkan pesan kepada kita. Demikian pula para leluhur lewat kisah-kisah yang direkam oleh La Galigo. Seperti halnya ketika Pohon Wélenréng hendak ditebang, makhluk-makhkluk yang tinggal bersama kita di dalam ekosistem penuh krisis ini juga telah menjerit-jerit meminta manusia untuk menghentikan kerakusannya. Namun, sejauh apa kita mau mendengarkan teguran-teguran tersebut?

Referensi:

Fachruddin Ambo Enre, Ritumpanna Wélenrénngé: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik La Galigo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999).

Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

Lagi-Lagi, Lukisan Tertua di Dunia ada di Sulawesi!

Sobat Lontara, tahukah kamu bahwa Pulau Sulawesi yang terletak di kawasan biogeografis Wallacea ternyata adalah gudangnya karya seni tertua di dunia?

Januari 2025, sebuah kabar dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara menggemparkan dunia. Berdasarkan hasil penelitian arkeolog tanah air Adhi Agus Oktaviano dan Budianto Hakim (BRIN) yang berkolaborasi bersama Griffith University dan Southern Cross University, Australia, ditemukan sebuah lukisan prasejarah di dalam Gua Metanduno yang terletak di Desa Liangkabhori. Lukisan yang berbentuk cap tangan menyerupai cakar tersebut ditengarai telah berusia 67.800 tahun. Dengan demikian, lukisan tersebut menjadi karya seni ciptaan Homo sapiens tertua di dunia, mengalahkan penemuan lukisan cadas di gua El Castillo, Spanyol yang diperkirakan berusia 40.080 tahun. Penemuan ini menegaskan bahwa leluhur manusia di Nusantara pada masa itu telah memiliki kemampuan untuk menciptakan karya seni yang kompleks, yang membutuhkan daya imajinasi sekaligus kreatifitas tinggi.

Beberapa tahun terakhir ini, lukisan-lukisan cadas dari era prasejarah memang banyak ditemukan di Pulau Sulawesi. Di antaranya seperti lukisan di Leang Tedongnge (Pangkajene) yang berusia 45.500 tahun, Leang Bulu Sipong (Pangkajene) yang berusia 43.900 tahun, serta Leang Timpuseng yang berusia minimal 39.990 tahun. Tentunya konsentrasi karya seni purba di pulau ini membuat para ahli bertanya-tanya.

Posisi Pulau Sulawesi yang ribuan tahun lalu berada di tengah dua daratan besar; Sundaland yang meliputi Jawa-Sumatra-Kalimantan serta Semenanjung Malaya, serta Sahul Land yang meliputi Papua dan Australia, membuat alamnya menjadi sangat unik. Penemuan fosil kerangka Homo sapiens berusia 7.200 tahun di Leang Paningnge (Maros) yang diberi nama “Bessé” pada tahun 2021 silam menunjukkan bahwa DNA-nya mengindikasikan suatu percampuran unik. Berdasarkan keterangan Prof. Akin Duli dari Universitas Hasanuddin, komposisi genetik Bessé menampilkan kemiripan dengan populasi penduduk asli di Australia dan Papua, ras Mongoloid, sekaligus terdapat jejak dari ras manusia purba yang kini telah punah: Denisovan. Penemuan ini menandakan bahwa di masa lalu, manusia-manusia yang berbeda-beda rasnya ini telah berinteraksi satu sama lain, berkembang biak, serta membangun masyarakat bersama. Pulau Sulawesi menjadi kunci penting pertemuan dari ras-ras manusia yang berbeda-beda tersebut.

Penemuan lukisan cadas tertua di Gua Metanduno juga memberikan petunjuk terkait migrasi Homo sapiens dari daratan utama Asia menuju ke Kepulauan Nusantara hingga kemudian memasuki Australia. Diduga, leluhur dari penduduk asli Australia mengambil jalur migrasi melalui rute utara dari Asia ke Pulau Sulawesi lalu kemudian masuk ke Sahul Land. Dengan demikian, ada kesinambungan sejarah yang luar biasa antara Sulawesi dan Australia. Dimulai dari arus migrasi leluhur ribuan tahun lalu, hubungan ini berevolusi menjadi kemitraan ekonomi dan budaya yang erat antara pelaut Makassar dan Suku Yolngu. Sebuah relasi lintas zaman yang direkatkan oleh ombak dan jalur perdagangan teripang.

Kira-kira, temuan seperti apalagi yang akan terkuak dari Pulau Sulawesi? Mari terus kita telusuri dan pelajari!



Sumber:

“Lukisan Gua Tertua di Dunia ada di Indonesia”, BBC Indonesia

“Dibalik Penemuan Kerangka Manusia di Maros”, Identitas UNHAS

“Lukisan Gua Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi Selatan, Berusia 51.200 Tahun”, BRIN