Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

“Tebang Pohon, Banjir Melanda” Sebuah Ramalan dari La Galigo

Sobat Lontara, di penghujung 2025 dan awal 2026 ini, bangsa Indonesia tengah dilanda duka nan mendalam. Saudara-saudara kita yang berada di Aceh dan Sumatera Utara ditimpa musibah banjir bandang yang tidak hanya meluluhlantakkan pemukiman namun juga merenggut banyak korban jiwa. Di daerah-daerah lain seperti Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan serta Papua Pegunungan, bencana air bah dan longsor juga melanda. Tentunya, musibah-musibah ini tidak terjadi begitu saja. Selain kenyataan bahwa perubahan iklim menyebabkan anomali pada fenomena cuaca secara global, kerusakan hutan juga menjadi salah satu faktor penting yang memicu terjadinya bencana-bencana tersebut.

Nah, ternyata sudah sejak zaman dahulu kala, leluhur kita telah berpesan kepada manusia untuk senantiasa menjaga pohon, makhluk Tuhan yang diberi peran istimewa untuk menyimpan air sekaligus menjaga struktur tanah. Simak bagaimana La Galigo menarasikan sebab-akibat apabila pohon ditebang untuk kepentingan manusia semata berikut ini.

Tiga Semesta dalam epos La Galigo yang dihubungkan oleh pohon kosmik Wélenréng

Dalam epos La Galigo, terdapat sebuah episode berjudul Ritumpanna Wélenréngngé yang berarti ‘Penebangan Pohon Wélenréng. Episode tersebut boleh dikatakan sebagai salah satu babak yang penting. Di dalamnya diceritakan bagaimana Sawerigading, protagonis dalam cerita-cerita La Galigo, cintanya bertepuk sebelah tangan sehingga memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya di Luwu dan berlayar ke negeri Cina demi menemukan pujaan hati.

Sebelum berlayar ke negeri tersebut, Sawerigading harus terlebih dahulu membangun sebuah perahu yang layak digunakan melayari samudera nan luas. Berdasarkan petunjuk dari adik perempuan kembarnya, Wé Tenri Abéng yang juga adalah seorang bissu sakti, Sawerigading lalu pergi ke Mangkuttu (dalam tradisi lisan berlokasi di tepi Sungai Cerekang). Di daerah itulah, Wélenréngngé —sebatang pohon raksasa yang menjulang tinggi hingga ke Botting Langiq— berdiri kokoh. Lebarnya konon mencapai tiga ratus depa dan panjangnya sekitar tujuh ribu depa, atau sama dengan 11,9 kilometer. Jika dibandingkan dengan Puncak Everest yang hanya 8,8 kilometer, jelas Pohon Wélenréng bagaikan pilar kosmik yang menembus lapisan atmosfer bumi!

“Jika hanya perahu menghalang dikau berlayar ke Cina,

kutunjukkan padamu kakanda Lawé (julukan Sawerigading),

Pohon Wélenréng di Mangkuttu, tumbuh tegak pada gunung kemenyan

Di sana berdiam semua ular sawah, ular lassa, ular méréli, lipan besar, bersarang pada naungan Wélenréng.

Di situ pula berdiam setangkup langit, sepetala bumi, burung-burung beraneka ragam, datang bersarang pada dahan Wélenréng.” – Wé Tenri Abéng

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 373)

Disebabkan oleh ukurannya yang besar, Wélenréng menjadi habitat dari tak terhitung jumlahnya spesies makhluk hidup. Mulai dari hewan-hewan yang melata dan hidup pada akar-akarnya, beragam jenis rusa, babi, kera, hingga ribuan burung yang bersarang pada lebih dari lima ratus dahan besar yang masing-masing memiliki tujuh puluh cabang. Tidak hanya itu, pada Wélenréng bersarang pula makhluk-makhluk tak kasad mata dari jenis padengngeng, pérésola, dan toaleqboreng pulakali yang dikatakan telah beranak-pinak pada pohon tersebut. Tak ayal, Wélenréng menjadi pohon hayat tempat biota darat, udara dan gaib bergantung, sebuah infrastruktur hidup yang menjaga kelestarian lingkungan.

Sebelum pohon tersebut hendak ditebang, terlebih dahulu Batara Lattuq, ayah Sawerigading memerintahkan untuk diadakan sebuah ritual. Ratusan kerbau, ayam merah berparuh dan berkaki kuning, serta ayam remaja berparuh dan berkaki hitam dikucurkan darahnya untuk membasahi Pohon Wélenréng sebagai tanda permohonan izin. Ketika ritual yang dipimpin oleh 70 orang Puang Matowa atau kepala dari para bissu tersebut dilaksanakan, seluruh makhluk yang menjadikan Pohon Wélenréng sebagai pusat kehidupan mereka serentak bereaksi. Mereka keberatan apabila pohon tersebut harus ditebang.

“Terkejut semua penghuni Wélenréng,

Dimabuklah mereka bau manusia.

Tiada senang lagi perasaan anak dewata

yang berumah di puncak Wélenréng”

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 411)

Ternyata, proses penebangan pohon tersebut mengundang perlawanan dari alam. Langit tiba-tiba bergejolak, disertai dengan saling sambar-menyambarnya kilat dan guntur serta angin ribut, menimbulkan ketakutan di hati manusia. Melihat alamat tersebut, lantas Batara Lattuq segera bergabung dalam ritual dan berkata kepada Pohon Wélenréng:

“Kasihani daku La Puang,

Kau izinkan daku menebang Wélenréng

Kuakhiri ia di tempatnya tegak, arakara pohon béttao béttaweng

Kujadikan ia perahu tumpangan hambamu pergi berlayar

menemui jodoh segaharanya.”

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 415)

Permohonan Batara Lattuq ini lantas ditanggapi oleh para penghuni Pohon Wélenréng. Mereka mengutarakan kesedihan mereka dalam ratapan yang mendalam. La Galigo mengisahkan bagaimana hewan-hewan ini, salah satunya seperti burung punai, menjeritkan suara hati mereka yang terancam kehilangan rumah dalam ribuan kicau, saat kapak emas Sawerigading mulai diayunkan.

Menangis mereka (burung punai Apung) berkata, “Tidak terpikir olehku hai Arakara pohon béttao béttaweng,

Kau tinggalkan sungguh teluk ini,

Gunung kemenyan tempatmu tegak di Mangkuttu

Kasihan Wélenréng, ketika daku bersarang di dahanmu, tiada tertiup angin Barat, tiada terhembus bayu Timur, tiada tertimpa sinar matahari terbit

Biar datang puting beliung, tiada sampai pada sarangku, sentosa kulahirkan anakku, tiada mati percuma anakku.”

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 433)

Seluruh manusia yang hadir dalam penebangan pohon itu konon terkejut menyaksikan gemuruh ratap tangis beraneka ragam satwa yang berumah di Wélenréng. Mereka gemetaran, berdiri bulu romanya ketika suara-suara binatang-binatang itu terus berlangsung siang dan malam. Namun demikian, itu semua tidak menyurutkan tekad Sawerigading untuk menebang sang pohon. Dengan bantuan sepupunya yang bernama La Pangoriseng, menggunakan kapak emas yang diturunkan dari langit, Wélenréng dengan mudah ditebang bak batang pisang. Batangnya jatuh membelah dua gunung, lalu rebah ditelan bumi. Bersamaan dengan itu, jutaan makhluk yang bersarang pada Wélenréng kalang kabut, berhamburan ke sana-sini menyelamatkan diri. Tidak ada lagi pohon raksasa tempat mereka bergantung. Yang mereka bawa hanyalah kesedihan dan kenangan akan Wélenréng Yang Agung.

Episode tersebut lantas dilanjutkan dengan kisah bagaimana kapal Sawerigading, yang kemudian juga dinamai Wélenréng, dibuat dengan bantuan dari para dewa yang menghuni dasar bumi. Bersama Wélenréng dalam wujud barunya itulah Sawerigading lantas memulai petualangannya ke negeri Cina.

***

Dalam versi tulisnya, riwayat Pohon Wélenréng di epos La Galigo memang berakhir seperti demikian. Namun, La Galigo adalah epos yang memiliki keberagaman bentuk. Versi-versi lisannya yang masih hidup di tengah masyarakat di Pulau Sulawesi memberikan perspektif yang lebih kaya lagi akan narasi penebangan Wélenréng. Salah satunya adalah cerita dari komunitas Suku Bajo/Sama di Kepulauan Selayar yang penulis dengar langsung pada tahun 2012. Di sebuah pulau kecil bernama Rajuni, terdapat sebuah cerita tentang asal-muasal Suku Bajo yang ternyata berkaitan erat dengan episode Ritumpanna Wélenréngngé.

Menurut versi lisan ini, seiring dengan rebahnya Pohon Wélenréng, jutaan sarang burung yang di dalamnya menyimpan tak terhitung jumlah butir telur unggas turut pula berjatuhan. Butiran-butiran telur tersebut kemudian pecah dan cairan albumen di dalamnya bersatu-padu tumpah-ruah membentuk banjir dahsyat yang menggenangi kawasan negeri Lubo (istilah orang Bajo untuk Tana Luwu).

Dalam sekejap mata, penduduk negeri Lubo diterjang oleh banjir albumen ini, sehingga mengakibatkan banyak di antara mereka yang tinggal di daratan terseret oleh arus hingga ke Teluk Boné. Dari situ, mereka kemudian berusaha untuk berenang atau berpegangan pada potongan-potongan kayu, mengapung-apung hingga kemudian terdampar di kawasan Kepulauan Selayar hingga Wakatobi. Mereka lah yang kemudian dipercaya sebagai cikal-bakal leluhur masyarakat Bajo hari ini. Keinginan Sawerigading untuk membuat perahu demi pelayarannya menuju ke negeri Cina ironisnya justru menyebabkan sekelompok masyarakat dari negeri asalnya, Lubo, menjadi pengembara bahari.

***

Apabila kita mencermati kedua versi La Galigo di atas, maka terdapat benang merah yang dapat ditarik. Pertama, melalui versi tulis La Galigo episode Ritumpanna Wélenréngngé, leluhur kita di Sulawesi Selatan telah berpesan bahwa pohon sejatinya adalah sumber kehidupan. Penggambaran beragam jenis spesies yang menghuni Wélenréng menunjukkan peran sentral pohon dalam sebuah ekosistem. Rusaknya satu batang pohon saja dapat menimbulkan efek masif bagi lingkungan hidup di sekitarnya, apa tah lagi jika menggunduli hutan. Versi tulis La Galigo memang tidak secara eksplisit dan lantang melawan eksploitasi alam yang dilakukan oleh Sawerigading untuk melaksanakan hajatnya, namun lewat deskripsi yang panjang serta mendetail berisi ratapan hewan-hewan serta makhluk gaib penghuni Wélenréng kita mendapatkan perspektif penutur cerita bahwa sejatinya segala unsur dalam lingkungan hidup saling terhubung satu sama lain. Kerusakan yang ditimbulkan dari penebangan Wélenrengé dapat dikategorikan sebagai suatu kiamat ekologis, sebab dampaknya menyebabkan tak terhitung spesies makhluk hidup kehilangan habitat hidupnya. Pada versi lisan Bajo, bencana ini bahkan menyebabkan banjir bandang yang menggusur masyarakat penghuni Lubo dari tempat hidup aslinya.

Pada akhirnya, cerita-cerita seperti ini tentunya bukanlah dongeng semata, melainkan suatu rekaman akan sebuah peristiwa atau pola di masa lalu yang membekas di dalam narasi lisan. Lewat cerita-cerita ini, para leluhur di Sulawesi Selatan memberikan pesan bahwa pohon memiliki peran vital sebagai jangkar yang mengikat erat kesatuan ekosistem, sehingga kelestariannya krusial dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, satu pesan nyata dari cerita ini adalah ramalan akan terjadinya banjir ataupun katastrofi besar lainnya apabila pohon-pohon dieksploitasi demi kepentingan manusia tanpa mempertimbangkan alam sekitarnya.

Hari ini, Sulawesi Selatan terus dibayang-bayangi oleh hantu bernama deforestasi. Pembukaan lahan dengan alasan pembangunan, pertambangan ataupun perkebunan memaksa pohon-pohon lokal untuk ditebangi dan tanah untuk dikeruk. Tiap tahun, bencana banjir juga kian sering terjadi, tidak hanya di perkotaan namun juga di pedesaan. Alam yang berubah sebenarnya telah mengirimkan pesan kepada kita. Demikian pula para leluhur lewat kisah-kisah yang direkam oleh La Galigo. Seperti halnya ketika Pohon Wélenréng hendak ditebang, makhluk-makhkluk yang tinggal bersama kita di dalam ekosistem penuh krisis ini juga telah menjerit-jerit meminta manusia untuk menghentikan kerakusannya. Namun, sejauh apa kita mau mendengarkan teguran-teguran tersebut?

Referensi:

Fachruddin Ambo Enre, Ritumpanna Wélenrénngé: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik La Galigo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999).

Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

Lagi-Lagi, Lukisan Tertua di Dunia ada di Sulawesi!

Sobat Lontara, tahukah kamu bahwa Pulau Sulawesi yang terletak di kawasan biogeografis Wallacea ternyata adalah gudangnya karya seni tertua di dunia?

Januari 2025, sebuah kabar dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara menggemparkan dunia. Berdasarkan hasil penelitian arkeolog tanah air Adhi Agus Oktaviano dan Budianto Hakim (BRIN) yang berkolaborasi bersama Griffith University dan Southern Cross University, Australia, ditemukan sebuah lukisan prasejarah di dalam Gua Metanduno yang terletak di Desa Liangkabhori. Lukisan yang berbentuk cap tangan menyerupai cakar tersebut ditengarai telah berusia 67.800 tahun. Dengan demikian, lukisan tersebut menjadi karya seni ciptaan Homo sapiens tertua di dunia, mengalahkan penemuan lukisan cadas di gua El Castillo, Spanyol yang diperkirakan berusia 40.080 tahun. Penemuan ini menegaskan bahwa leluhur manusia di Nusantara pada masa itu telah memiliki kemampuan untuk menciptakan karya seni yang kompleks, yang membutuhkan daya imajinasi sekaligus kreatifitas tinggi.

Beberapa tahun terakhir ini, lukisan-lukisan cadas dari era prasejarah memang banyak ditemukan di Pulau Sulawesi. Di antaranya seperti lukisan di Leang Tedongnge (Pangkajene) yang berusia 45.500 tahun, Leang Bulu Sipong (Pangkajene) yang berusia 43.900 tahun, serta Leang Timpuseng yang berusia minimal 39.990 tahun. Tentunya konsentrasi karya seni purba di pulau ini membuat para ahli bertanya-tanya.

Posisi Pulau Sulawesi yang ribuan tahun lalu berada di tengah dua daratan besar; Sundaland yang meliputi Jawa-Sumatra-Kalimantan serta Semenanjung Malaya, serta Sahul Land yang meliputi Papua dan Australia, membuat alamnya menjadi sangat unik. Penemuan fosil kerangka Homo sapiens berusia 7.200 tahun di Leang Paningnge (Maros) yang diberi nama “Bessé” pada tahun 2021 silam menunjukkan bahwa DNA-nya mengindikasikan suatu percampuran unik. Berdasarkan keterangan Prof. Akin Duli dari Universitas Hasanuddin, komposisi genetik Bessé menampilkan kemiripan dengan populasi penduduk asli di Australia dan Papua, ras Mongoloid, sekaligus terdapat jejak dari ras manusia purba yang kini telah punah: Denisovan. Penemuan ini menandakan bahwa di masa lalu, manusia-manusia yang berbeda-beda rasnya ini telah berinteraksi satu sama lain, berkembang biak, serta membangun masyarakat bersama. Pulau Sulawesi menjadi kunci penting pertemuan dari ras-ras manusia yang berbeda-beda tersebut.

Penemuan lukisan cadas tertua di Gua Metanduno juga memberikan petunjuk terkait migrasi Homo sapiens dari daratan utama Asia menuju ke Kepulauan Nusantara hingga kemudian memasuki Australia. Diduga, leluhur dari penduduk asli Australia mengambil jalur migrasi melalui rute utara dari Asia ke Pulau Sulawesi lalu kemudian masuk ke Sahul Land. Dengan demikian, ada kesinambungan sejarah yang luar biasa antara Sulawesi dan Australia. Dimulai dari arus migrasi leluhur ribuan tahun lalu, hubungan ini berevolusi menjadi kemitraan ekonomi dan budaya yang erat antara pelaut Makassar dan Suku Yolngu. Sebuah relasi lintas zaman yang direkatkan oleh ombak dan jalur perdagangan teripang.

Kira-kira, temuan seperti apalagi yang akan terkuak dari Pulau Sulawesi? Mari terus kita telusuri dan pelajari!



Sumber:

“Lukisan Gua Tertua di Dunia ada di Indonesia”, BBC Indonesia

“Dibalik Penemuan Kerangka Manusia di Maros”, Identitas UNHAS

“Lukisan Gua Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi Selatan, Berusia 51.200 Tahun”, BRIN

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Ternyata ada Planet Tamalate di Jagad Raya!

Di suatu sudut galaksi yang jauh, tersembunyi sebuah planet bernama Tamalate. Planet dalam legenda, planet asing yang ternyata menyimpan sebuah harta karun rahasia. Di sanalah dua pemburu hadiah paling aneh di jagat raya—Kancil dan Tarub—memulai petualangan terbesar mereka.

Begitulah alur utama dari Jagad Raya, komik fantasi-sains yang mengangkat cerita rakyat Indonesia ke semesta kosmik. Bayangkan saja, dunia di mana tokoh-tokoh seperti Si Kancil, Jaka Tarub dan bahkan Situ Bagendit hidup dalam satu alam semesta, melintasi planet, berburu rahasia kuno, dan menantang takdir di antara bintang-bintang. Komik yang volume pertamanya rilis di akhir tahun 2024 silam ini membawa hawa baru yang menyegarkan bagi para pecinta legenda tanah air, termasuk bagi para penggemar epos La Galigo!

Dalam komik ini, Kancil dan Tarub dikisahkan sebagai sahabat sekaligus bounty hunter yang nekat. Misi mereka sederhana—mencuri susu (ya, kamu tidak salah baca: susu alias milk alias léché!) dari makhluk misterius bernama Ratu Pok-Ame di planet Tamalate. Tapi ternyata, susu itu bukan sekedar susu biasa karena menyimpan sesuatu yang lebih besar dari yang mereka bayangkan: rahasia yang bisa mengguncang seluruh jagat raya.

Yang menarik, nama Tamalate bukan hasil karangan semata. Buat kamu yang berasal dari Sulawesi Selatan, nama Tamalate tidak terdengar asing lagi, bukan? Selain dikenal sebagai nama salah satu jalan di kecamatan Rappocini kota Makassar, nama Tamalate sebenarnya berakar kuat dalam sejarah Kerajaan Gowa. Pada masa awal berdirinya Kerajaan Gowa sekitar tahun 1300-an Masehi, ibu kotanya berada di Tamalate, yang dikenal dengan sebutan Kale Gowa. Konon, di tempat itulah dulunya sesosok perempuan yang turun dari langit pertama kali menjejakkan kakinya di Dunia Tengah. Ia dikenal dengan sebutan Tumanurunga ri Tamalate. Disebabkan oleh kharismanya, para pemimpin dari Baté Salapang (Sembilan Bendera) atau sembilan komunitas utama yang menjadi cikal-bakal dari Kerajaan Gowa kemudian memintanya untuk menjadi ratu mereka. Beliau kemudian memimpin bersama dengan suaminya, Karaéng Bayo yang muncul dari dasar lautan, sebagai penguasa Kerajaan Gowa yang pertama.

Tamalate kala itu berdiri di atas bukit setinggi tiga puluh meter di atas permukaan laut, dikelilingi hamparan tanah pertanian yang subur. Dari tanah itulah orang-orang Gowa tumbuh menjadi pengekspor beras utama di kawasan timur Nusantara pada abad ke-16 dan 17. Kini, bukit Tamalate dikenal sebagai kompleks pemakaman raja-raja Gowa-Tallo—tempat sejarah, adat, dan spiritualitas berpadu.

Di tangan para kreator Jagad Raya—Shani Budi, Ahmad Fadly, Anggaditya Putra, dan Sonny Hermawan—nama bersejarah itu dihidupkan kembali sebagai sebuah planet. Mereka tidak sekadar menciptakan dunia baru, tapi juga menanamkan akar budaya Nusantara di tengah semesta sains dan imajinasi. Di planet Tamalate versi kosmik ini, penduduknya menulis dengan Aksara Rikai, sistem tulisan futuristik yang terinspirasi oleh keindahan Aksara Lontara dari Sulawesi Selatan. Bentuk hurufnya yang melengkung dan bersinar di udara mengingatkan kita pada lontar kuno yang dulu menjadi media tulis para pujangga Bugis-Makassar.

Dalam komik Jagad Raya, puncak kekuasaan tertinggi di Planet Tamalate berada di tangan Ratu Pok-Ame, sosok anggun sekaligus kejam. Di Jagad Raya ia adalah seorang menjadi penjaga zat kuno—penyimpan rahasia asal-usul semesta. Saat Kancil dan Tarub berusaha melawan kekuasaannya, keberanian mereka diuji, dan bahkan Kancil sendiri mulai meragukan misinya. Ada sesuatu di planet ini yang ia lihat, sesuatu yang mengubah segalanya. Di Planet Tamalate, mereka juga bertemu dengan Rengganis, pemimpin pasukan yang tangkas dan juga berani. Sosok Rengganis ini ternyata terinspirasi dari karakter Dewi Rengganis, seorang putri Majapahit dalam cerita rakyat Jawa Timur lho!

Lewat Jagad Raya, Tamalate bukan hanya sebuah tempat di peta bintang. Ia adalah simbol: bahwa cerita rakyat dan sejarah kita bisa menjelma jadi semesta baru yang tak kalah megah dari anime, manga ataupun karya-karya luar negeri lainnya. Bahwa di antara gemerlap kosmos, masih ada gema nama-nama lokal yang hidup kembali—dari bukit Tamalate di Gowa hingga planet Tamalate di galaksi jauh sana.

Di sinilah kekuatan komik ini terasa: ia bukan hanya fantasi, tapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya Indonesia nan beragam. Di tangan generasi baru, kisah-kisah Nusantara menemukan orbitnya sendiri di jagad raya! Bagi kamu yang tertarik untuk membaca petualangan Kancil dan Tarub, buruan gih mampir ke akun Instagram Cerita Jagad Raya!